BELAJAR DARI PRAKTISI: MEMAHAMI DUNIA TUNANETRA BERSAMA IBU LILIS SULASTRI, S.PD DARI SLB N KARAWANG.

 


Kamis, 23 Oktober 2025 – Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Singaperbangsa Karawang menyelenggarakan kegiatan Praktisi Mengajar dalam mata kuliah Pendidikan Inklusi dan Pendidikan Khusus dengan dosen pengampu Dr. Uum Suminar, M.Pd. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula FKIP Unsika dengan menghadirkan praktisi dari SLB N Karawang.

Pada kesempatan ini, materi yang disampaikan oleh Ibu Lilis Sulastri, S.Pd adalah pengenalan dasar mengenai tunanetra. Beliau menjelaskan bahwa tunanetra diklasifikasikan dalam tiga kategori, yakni buta warna yang merupakan keterbatasan dalam membedakan warna tertentu, low vision yaitu keterbatasan penglihatan yang membutuhkan bantuan alat optik, dan total blind yang merupakan kebutaann total tanpa kemampuan penglihatan sama sekali.


Menemukan fakta baru tentang tunanetra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat semester 5 tampak antusias dalam mempelajari beragam hal mengenai tunanetra. Seperti dalam latihan interaktif dengan melaksanakan simulasi berjalan dengan mata tertutup dan dipandu oleh rekan sebaya. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa pada perspektif tunanetra, supaya mahasiswa mengetahui apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dalam membangun interaksi yang baik dengan masyarakat tunanetra.


Selain itu mahasiswa juga dikenalkan dengan bagaimana para tunanetra beraktivitas. Seperti pengenalan guiding block yakni marka khusus di berbagai fasilitas umum untuk mempermudah tunanetra dalam berjalan. Kemudian alat bantu dalam kegiatan membaca dan menulis yang disebut braile yaitu sistem tulisan timbul yang dapat dibaca melalui sentuhan jari. Braile tersedia dalam beragam teknologi yang dapat digunakan oleh tunanetra, seperti braile writer untuk menulis di kertas melalui mesin ketik, dan braile display yang ditampilkan di layar komputer maupun telepon genggam secara timbul.

Pendidikan khusus diupayakan untuk mencapai kesetaraan dalam pendidikan untuk semua elemen masyarakat. Tunanetra menjadi salah satu sasaran dalam pendidikan khusus, karena sama dengan masyarakat pada umumnya, para tunanetra juga memiliki hak yang sama dalam mengenyam pendidikan karena pada dasarnya tunanetra tidak hidup dalam kegelapan, melainkan mereka hidup dengan cahaya yang berbeda.